KESATUAN GERAK, MELAWAN MUSUH BERSAMA

Rabu, 26 November 2014


Harga BBM Naik, Perlawanan Bergejolak

Harga Bahan Bakar Minyak, atau biasa disingkat BBM, kini sudah resmi naik senin 18 November 2014 tadi malam oleh rezim Jokowi-JK, yang baru berkuasa beberapa bulan memimpin Indonesia. Yah.., BBM naik lagi, dan ini sudah menjadi ke delapan kalinya BBM naik semenjak 1998 rezim otoriter runtuh diawal kekuasaanya yang ke 32 tahun atas Indonesia. Ini menjadi phenomena klasik yang dipraktekkan oleh teknokrat negeri ini sehingga, rakyat sudah terbiasa dan tak mau ambil soal kebijakan politik dan ekonomi pemerintah yang dianggapnya sudah tidak akan pernah berpihak pada rakyat bawah.

Ada sikap apatisme dari masyarakat atau rakyat bawah mengenai problem negeri ini, yang secara kebijakan ekonomi telah melancarkan ekonomi neoliberalisme. adapun tingkat perlawanan terhadap kebijakan ekonomi yang pro terhadap pemodal, secara pressure, belum mampu mematahkan setiap kebijakan ekonomi politik yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Apalagi, sampai pada pembentukan garis politik aternatif yang kita tidak bosan-bosannya, dan tidak mengenal lelah mempropagandakannya. Mendorong kesadaran politik massa buruh, tani, nelayan dan kaum yang tertindas dan terhisap oleh system ekonomi kapitalisme-neoliberalisme, memanglah tidak semuda membalikkan telapak tangan, butuh waktu, tenaga dan fikiran yang full sampai pada, meyakinkan rakyat pekerja akan politik mereka sendiri.

Kenaikan BBM dengan trik tambal sulam dari pemerintah lewat kartu saktinya, yaitu kartu Msyarakat sejahtra (KMS), Kartu Indonesia pintar (KIP), dan kartu Indonesia sehat (KIS). guna meminimalisir ketidak mampuan rakyat miskin untuk terlibat dalam perputaran modal, meminimalisir terjadinya tingkat inflasi dengan adanya tingkat daya beli masyarakat berkurang dikarenakan naikknya harga BBM yang berdampak langsung pada kebutuhan sehari-hari masyarakat.


Trik ini pernah juga di terapkan rezim neolib sebelum-sebelumnya dimana, ketika terjadi pengurangan, bahkan sampai pada pencabutan subsidi BBM rakyat, maka bantuan dana untuk warga yang dikategorikan dalam garis kemiskinan yang melimpah ruah di negeri ini, menjadi kebijakan pemerintah. Namun, hasil dari kebijakan tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah perputaran ekonomi. Indonesia yang 90% perusahaannya telah dikusai oleh swasta, baik nasional, maupun internasional terjerumus lagi kedalam badai krisis kapitalisme global.

Penyakit krisis ini yang telah sampai pada titik nadinya, kapitalisme sudah mengalami krisis yang berkepanjangan, sektor energy yang menjadi penolong utama ekonomi kapitalisme-neoliberalisme ini, yang salah satunya bisa didapatkan di Indonesia sebagai Negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Maka, berbondong-bondonglah korporasi multi nasional ingin mengusai negeri surga ini. salah satu strateginya adalah dengan mengajak Indonesia masuk dalam organisasi-organisasi yang dikuasi para investor kaya dunia, guna mencari kesepakatan dengan pemerintah negeri ini untuk bisa bekerja sama dengan investor asing dan membukakan kerang untuk sumber daya alam Indonesia. Inndoneia telah terperangkap dan sulit lepas dari perangkap itu kecuali memberanikan diri menerima seluruh konsekwensi imbargo dan segala macam intimidasi dari korporasi internasional. 

Watak birokrasi Indonesia adalah watak mafia, komparador, menjual kekayaan alam Indonesia dan menikmatinya sendiri. Belum lagi dari para petinggi-petinggi partai politik borjuasi yang memiliki perusahaan sendiri bekerja sama dengan pemerintah, tentunya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk mendapatkan keuntungan dengan menggunakan jabatan baik sebagai pemerintahan maupun sebagai Dewan Perwakilan Rakyat. Sunggu sangat ironis, jutaan rakyat miskin ditengah sumber daya alamnya yang sangat melimpah. Bisa disimpulkan bahwa kepentingan dikantor-kantor dewan adalah kepentingan partai borjuasi bukan membawa kepentingan rakyat.

Dengan persekongkolan yang mengatas namakan kepentingan rakyat sungguh sangat menyakiti hati rakyat dan kehidupannya. Dari sekelumit prilaku borjuasi nasional meminjam istilah Kwik Kian Gie, sebagai pemerintah (teh botol) teknokrat bodoh dan tolol, rakyat sudah seharusnya mengambil peran dalam ekonomi dan politik, menentukan kebijakannya sendiri yang bertujuan pada kepentingan rakyat tertindas secara umum. Buruh, tani, mahasiswa (gerak pelopor), kaum miskin kota, nelayan dan seluruh kaum tertindas lainnya harus bersatu. Belajar sama-sama dan berjuang sama-sama.

Bergerak Bersama

Insureksi yang terjadi sepanjang tahun 2014 ini dibeberapa daerah di indonesia, dengan serangkaian aksi demonstran yang mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada kaum lemah dan memuat kebijakan titipan para investor. Aksi menuntut upah layak yang setiap tahunnya di laksanakan jutaan massa buruh, aksi penolakan penggusuran dan perampasan tanah rakyat atas kaum miskin kota dan desa yang tidak bisa enghilang dari pemberitaan, serta kaum tani, aksi mahasiswa menolak komersialisasi pendidikan dan represifitas birokrasi kampus, bersatu dalam satu issu yang sama, yaitu penolakan terhadap kenaikan harga BBM sebagai prodak dari kebijakan neoliberalisme.

BBM menjadi issu pemersatu gerakan masih belum mampu menyatukan strategi taktik perjuangan, kaum buruh dengan issu BBM selalu menggandeng issu politik upah murah, kaum pemuda/mahasiswa menggandengakan issu BBM dengan komersialisasi pendidikan dan represifitas birokrasi kampus yang melarang mahasiswa berorganisasi. aksi, dan sebagainya yang dianggap mengganggu aktivitas akademik dan masyarakat sekitarnya direpresif aparat, kaum petani, dan kaum miskin kota menggandengkan issu kenaikan BBM dengan kenaikan harga bahan pokok yang tak mampu mereka beli karena pemerintah membunuh basis ekonomi petani dan merampas tanah mereka. Yah, belum sampai pada slogan kaum tertindas bersatulah.

Kesadaran dan pemahaman mengenai ekonomi politik yang berlaku di negeri ini, belum dan bahkan masih jauh secara merata “sadar”. System ekonomi politik yang berlaku adalah ekonomi neoliberalisme yang harus dilawan secara bersama-sama, dengan satu langgam propgram perjuangan bersama, sampai pada pendidikan politik bersama.

Banyak yang berbicara persatuan, namun masih sebatas wacana yang diagitasikan dikalangan mereka sendiri, mempropagandakan persatuan di lingkaran mereka sendiri, tanpa mengajak unsure gerakan yang bangkit melawan penindasan dan penghisapan laiannya. Mungkin secara teori kita mampu menjabarkan tentang persatuan gerak, mampu menjelaskan interkoneksi dengan unsure yang bergerak lainnya. Akan tetapi, ketika sampai pada pengaplikasiannya, sungguh  dan sangatlah tidak mudah membaikkan telapak tangan. Bahkan memunculkan demoralisasi pada aktivis pergerakan yang mencoba menyatukan gerakan namun tidak mampu dan berujung pada “berputus asa”.

Kita sadar dan semua orang tahu, bahwa kita dalam cengkraman system ekonomi kapitalisme –neoliberalisme. Namun, kita tidak sadar bahwa dengan gerak yang terkotak-kotak dan sangat eksklusif ini tidak mampu menumbangkan system penindas yang secara strategi taktik mereka lebih siap, mereka mengusai Negara dan segenap aparatusnya keamanannya yang bersenjata lengkap, merasuki agama sebagai landasan kebenaran manusia, memasuki pendidikan yang mengkonstruk pemikiran kita sejak dini tentang kebenaran teori mereka mengenai kehidupan manusia. Teori ini persis yang di analisis Gramscy dalam tesisnya yang terkenal yaitu “hegemoni” dimana suatu kelas dan anggotanya menjalankan ke kuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan cara kekerasan dan persuasi. Artinya bahwa klas yang berkuasa (kapitlisme/borjuasi) memaksa klas bawah (kaum buruh, tani, kaum miskin kota dan klas tertindas lainnya) mengikuti apa yang menjadi keinginan penguasa, dan Negara sebagai instrument terpenting system kapitalisme untuk mengontrol klas lainnya dan memakai agama dan pendidikan mengontrol manusia secara persuasive (hegeonik).

Nah, dengan semakin jelas dan nyata, persatuan gerak dengan satu musuh bersama dengan kesadarasn yang setinggi-tingginya dari kesadaran normative di masing-masing sektor pergerakan pembebasan penindasan, dan penghisapan manusia atas manusia lainnya, sekarang saatnya menyatukan itu, dengan mengabaikan warna bendera menuju platform perjuangan bersama. Apakah kita siap, dan mampu melakukan itu? Hanya praktek yang tak mengenal lelah, letih serta praktek revolusioner-lah yang mampu menjawab semua itu. Sehingga bergerak bersama tak hanya sebatas teori baku, harus diturunkan menjadi program perjuangan bersama.

Persatuan Pelopor Gerakan dan Soko Guru Perubahan

Dari kebijkan pemerintah yang dianggap merupakan kebijakan ekonomi neolib kini menimbulkan riak perlawanan dari berbagai kelompok sosial. Meskipun dalam persfektif persatuan, masih menimbulkan kerancuan dan terdapat arogansi bendera masing-masing, tapi, usaha untuk menyatukan jejari perlawanan untuk membentuk satu kepalan perlawanan kini memainkan peran penting dalam proses penumbangan dan penghancuran tirani dinegeri ini, percaya atau tidak, itu adalah suatu keniscayaan.

Gerakan Mahasiswa sebagai bentuk gerakan paling aktif menentang kebijakan sang penguasa, meskipun di beberapa daerah, secara kuantitas maupun kualitas, mengalami kemundururan jika dilihat dari perkembangan gerakan sebelumnya. Gerakan mahasiswa yang masih banyak orang menganggapnya sebagai agen perubahan (agent of change) kini sudah tidak berlaku lagi, dilihat dari persfektif klas memang mahasiswa bukanlah suatu kelompok agen perubahan melainkan dan yang lebih tepatnya disebut sebagai  pelopor gerakan. Mahasiswa dalam pandangan klas bukanlah bagian dari klas penentu suatu perubahan karena mahasiswa atau kaum intelektual berada pada posisi tengah yang dekat dengan watak borjuasi sehingga, bisa disebut sebagai klas menengah (borjuis kecil). Nah, siapa yang menjadi klas paing penentu suatu perubahan? mari kita bahas sama-sama, siapa klas penentu itu?

Sejarah ummat manusia, tidak terlepas dari pertentangan klas, antara klas tertindas dan klas yang menindas. Antagonisme klas ini dalam manifesto komunis yang tulis oleh Karl Marx, merupakan bentuk nyata dan tak bisa di bantah oleh teori apapun, meskipun kapitalisme dengan segala kekuatannya menyensor teori pertentangan klas ini agar kaum yang terhisap dan tertindas sebagai bentuk klas tertindas tidak bangkit melawan.

Kita masih ingat peristiwa 65 pembantaian jutaan rakyat Indonesia tak berdosa, menutup segala akses pengetahuan yang bisa membangkitkan perlawanan, itu digunakan oleh system kapitalisme mem-bumi hangus-kan organisasi perlawanan melalui militer soeharto yang anti demokrasi, mengubah nasionalisme soekarno yang syarat akan revolusi sosialis menjadi nasionalisme yang pro terhadap kapitalisme dan membentuk kapitalisme Negara yang lemah, sebagai komparador, nasionalisme yang syarat akan pembunuhan jutaan rakyat demi melancarkan kepentingan ekonomi politik kapitalisme di bumi nusantara yang kaya raya ini.

Kapitalisme yang tidak cakap dalam mengelolah industry-industri miliknya, tidak mampu mmengeloah kapas menjadi benang, menjadi kain, kemudian menjadi pakaian, seluruhnya dikerjakan oleh kaum buruh yang dipekerjakan oleh pengusaha dengan terlatih dan disiplin. Namun, kapitalisme yang rakus itu tidak akan pernah membuat buruh-buruh itu sejahtra, memelihara pengangguran sebagai bahan cadangan pekerja yang sewenang-wenang akan mem PHK buruh yang melawan, dan dianggap tidak produktif lagi, belum soal upah yang sangat jauh dari hasil produksi buruh. Bentuk ini yang disebut sebagai perbudakan modern.

Namun, disisi lain, kapitalisme tidak akan bisa mengakumulasi modal, tidak mampu mendapat keuntungan yang melimpah, jika kaum buruh tidak ada yang menjalankan pamrik, yang mengubah, benang menjadi kain, merakit teknologi canggih, dan sebagainya. Kaum kapitalis ini melahirkan bentuk social yang baru, bentuk kerja sama social dalam pabrik-pabrik, solidaritas antar pekerja, kerja-kerja social dalam tubuh kapitalisme akan melahirkan penggali-penggali liang kuburnya sendiri yang dari tahun ketahun mengalami penindasan, terhisap, teralienasi dari hasil produksinya sendiri.

Kaum buruh sebagai anak kandung kapitalisme yang membentuk kerja-kerja social di pabrik-pabrik mereka dan mampu melawan kapitalisme, seperti mogok kerja, akan menghancurkan system kapitalisme dari akarnya. Maka, soko guruh perubahan dalam system penindasan kapitalisme terdapat pada klas pekerja sebagai kaum tertindas dari klas penindas (kapitalisme). Antagonism klas yang disebutkan Marx pada fase system kapitalisme ini adalah pertentangan antara kaum buruh dan kaum pengusaha (kapitalis). Revolusi kaum buruhlah yang mampu menumbangkan system kapitalisme, kepemimpinan kaum buruh-lah yang akan mengantar kita pada cita-cita masyarakat tanpa penindasan dan penghisapan. Maka dari itu, menyambung kalimat dalam manifesto komunis yang ditulis Marx “kaum buruh sedunia, bersatulah!”. Dan tegaklah SOSIALISME  

ditulis oleh: tato - biro ideologi KP SGMK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar, mengkritik, di kolum dibawah dengan komentar-komentar serrta kritikan yang ilmiah. study, organisasi, dan revolusi. salam muda kerakyatan, salam sosialisme