Pemilu 2014 Milik Kita atau Mereka, Masih adakah Partai Alternatif?

Rabu, 09 April 2014

Selama berlangsungnya acara, diadakan juga Launching Kelompok Belajar KAPITAL, yang tujuannya sebagai bahan diskusi membedah buku DAS KAPITAl 1 2 dan 3 karangan Marx & Engles. Kelompok belajar ini terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Tidak hanya launching Kelompok Belajar Kapital, pembukaan Stand Penjualan Buku Gerakan di wilayah Samarinda juga dilakukan sebagai ajang pendistribusian bahan bacaan yang bermanfaat bagi kesadaran pemahaman si pembaca buku. Peserta yang hadir dalam diskusi tersebut meliputi Kelompok Tani Makmur Desa Lubuk Sawah, Perempuan Mahardika, Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI), Jaringan Anti Tambang (JATAM), Kelompok Kerja (POKJA), Himpunan Mahasiswa Administrasi Negara (HIMANEGA), Politik Rakyat, Forestry Magazine, Mahasiswa/i Sosiatri, BEM FISIP Univ.Mulawarman, Mahasiswa Fak.Keguruan Ilmu Pendidikan Univ.Mulawarman, Fak.Hukum Univ.Mulawarman, Fak.Hubungan Internasional Kabar Daerah : Samarinda, Kalimantan Timur
Oleh : Desi Natalia Mebang (Koma Progresif)

Pada tanggal 1 April 2014, beberapa organisasi di kota Samarinda seperti Konsentrasi Mahasiswa Progresif atau yang sering disingkat dengan nama KOMA PROGRESIF yang juga berjejaring dengan Komite Persiapan Sentral Gerakan Muda Kerakyatan (KP-SGMK) bersama Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP) mengadakan diskusi publik sebagai upaya penyatuan gerakan dalam merespon pemilu borjuasi tahun 2014 dengan tema “Pemilu 2014 : Milik Kita Atau Mereka? Masih Adakah Alternatif ? .

Beberapa pendapat yang muncul ketika pendiskusian berlangsung adalah bahwa pemilu 2014 sebagai ajang pemilu borjuasi. Tidak terlihatnya satupun partai yang berdiri hari ini sebagai perwakilan dari rakyat itu sendiri (Buruh, Tani, Nelayan, dan rakyat tertidas lainnya) menjadikan pemateri dan peserta diskusi mempunyai alasan bahwa pemilu 2014 masih milik “mereka”. Beberapa persoalan seperti RUU KamNas, penculikan aktivis 98, korban lumpur lapindo, hingga munculnya sebuah fenomena populis seperti Jokowi juga dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan rakyat hingga saat ini karena hanya diusung berdasarkan kepentingan partai elit dan pro pemodal.

Pemateri diskusi juga mendorong agar masyarakat hari ini tidak hanya sekedar melakukan mosi tidak percaya (Golput) pada partai elit dan pemilunya tahun 2014 ini, akan tetapi dapat melakukan lebih dari hal tersebut yaitu dengan membangun sebuah gagasan politik alternative/partai alternatif yaitu partai rakyat itu sendiri yang berasal dari klas buruh, petani, nelayan, dan klas tertindas lainnya sebagai ajang tandingan oleh partai elit yang ada saat ini. Diskusi tersebut berlangsung di Aula Guest House Universitas Mulawarman, Samarinda. Dengan para pemantik diskusi antara lain Marwono (KPO-PRP), Tyas (Politik Rakyat), Sapri Maulana (GMNI), Merah Johansyah (JATAM KALTIM), Yus (POKJA), dan dimoderatorin oleh Muhammad Rusli (KOMA PROGRESIF).

Univ.Mulawarman, dan BEM PERTANIAN Univ.Mulawarman. (SuaraKita)*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar, mengkritik, di kolum dibawah dengan komentar-komentar serrta kritikan yang ilmiah. study, organisasi, dan revolusi. salam muda kerakyatan, salam sosialisme